Mayat hidup (kembali)
Dia mayat tapi dia hidup. Dia bernafas tapi mata menatap kosong ke arah lain. Dan dia mayat hidup yang hidup kembali. Emang agak sulit di mengerti, karna yang mengerti cuma gue buakak.
Selama beberapa tahun terakhir gue ngerasa lebih mirip mayat hidup daripada manusia. Hidup tanpa tujuan yang isi kepala cuma mau mati mati dan mati. Emang lebay cuma itu yang ada di otak gue waktu itu.
Gue gak punya semangat hidup, yang gue fikirkan cuma alasan mengapa gue masih tetap hidup di dunia. Lamunan gue gak banyak cuma satu "kalau gue mati apa yang bakal terjadi".
Sama sekali gak nemu jawaban, yang ada malah bikin kepala mumet dan sedih sendiri.
Gue seneng sendirian tapi juga sedih dalam satu waktu. Gue benci orang nemenin gue tapi gue juga benci saat orang tak ada yang peduli dengan gue. Serba salah ntah apa mau nya.
Tapi sekarang udah mulai agak ada perubahan. Gue udah mulai sedikit tau apa tujuan gue tetap hidup di dunia. Gue juga mulai ngerasa kalo gue masih di butuhkan di sini.
My mom, maaf karna aku hanya bisa mengecewakan mu. Aku mulai tau dan paham semua kesalahan bukan ada di mama tapi juga ada di aku sebagai anak mu. Maaf karna aku tidak banyak perduli dengan kegiatan mu. Dan yang paling ku sesali mom maaf karna sudah pernah membuat mu nangis. Love you mom ♥️
My dad, maaf karna selama ini banyak menyusahkan mu. Maaf karna aku terlalu banyak menyalahkan mu padahal semua kesalahan jelas adalah kesalahan ku. Maaf dan maaf karna aku melupakan tujuan ku sejak kecil. Sebisa mungkin aku akan kembali berjuang untuk sampai ke tujuan itu. Love you dad ♥️
My brothers and my sisters, maaf karna aku belum bisa jadi saudara yang baik. Aku juga banyak menyusahkan kalian. Aku yang egois dan mau menang sendiri maafkan aku. Aku sayang kalian♥️
Aaaaaaa.... Selama ini gue bilang gue bakal mulai semuanya dari awal. Tapi gue rasa gue belum benar-benar memulai apa pun. Jadi, sekarang gimana pun caranya gue bakal mulai semuanya perlahan.
Dan mayat hidup pun kembali hidup.
Puput Fighting...!!!
Minggu, 20 Januari 2019
Sabtu, 19 Januari 2019
Kamis, 18 Oktober 2018
Setres
Gue gak paham kenapa gue punya mental yang lemah. Gue gampang stres cuma karna masalamasalah yang sepeleh. padahal jelas itu memang kesalahan gue. Seharusnya gue berusaha berubah bukan malah stres.
Gue mau merubah sifat gue tetapi gue gak ada keinginan untuk berubah, gue sadar itu. Gue butuh konsultasi apa yang perlu gue lakuin .
Tempat yang paling nyaman saat stres gue itu di kamar mandi. Duduk jongkok sambil meluk lutut atau natap air, atau gigit jari dengan pikiran kosong.
Buat keluarga, teman dan orang-orang yang kenal maaf gua terlalu lemah soal mental. Gue terlalu nyimpan kelemahan gue secara fisik yang berujung lemah nya mental gue. Eiyyy gue gak paham cuma cuap cuap aneh. Suatu saat mungkin bakal gue hapus cuap cuap ini soalnya dalam keadaan normal gue bakal malu ngelakuin ini. Oke bhayyy ...
Jum'at 19 Oktober 2018
Gue mau merubah sifat gue tetapi gue gak ada keinginan untuk berubah, gue sadar itu. Gue butuh konsultasi apa yang perlu gue lakuin .
Tempat yang paling nyaman saat stres gue itu di kamar mandi. Duduk jongkok sambil meluk lutut atau natap air, atau gigit jari dengan pikiran kosong.
Buat keluarga, teman dan orang-orang yang kenal maaf gua terlalu lemah soal mental. Gue terlalu nyimpan kelemahan gue secara fisik yang berujung lemah nya mental gue. Eiyyy gue gak paham cuma cuap cuap aneh. Suatu saat mungkin bakal gue hapus cuap cuap ini soalnya dalam keadaan normal gue bakal malu ngelakuin ini. Oke bhayyy ...
Jum'at 19 Oktober 2018
Rabu, 10 Oktober 2018
Perpustakaan Kota
Hari ini, pertama kali nya aku datang ke perpus. Alasannya jelas bukan buat membaca, tapi untuk mengerjakan tugas kelompok.
Aku suka perpustakaan, tapi aku hanya datang ke rak buku berisi novel-novel atau buku cerita lainnya. Aku juga suka toko buku, dan jelas aku hanya menuju rak buku novel-novel. Aku menyukai membaca buku tapi jelas hanya buku yang bersifat fikti.
Gak tau untuk alasan apa aku menulis ini, aku hanya menyibukkan waktu ku karna saat ini aku berada di antara teman ku yang tengah sibuk dengan tugas kelompok. datang di urutan terakhir membuat ku bingung apa yang perlu didiskusikan. Dan disini lah aku duduk santai sambil menulis blog penuh laba-laba ku. Jelas ini garing. Terserah aku hanya menulis kata apa yang ada di kepala ku.
Ohh aku baru saja membuat kartu perpustakaan, disini di perpustakaan kota. Kemarin aku membuat kartu perpustakaan di kampus ku.
Sudah ku akhiri sampai disini sampai jumpa dengan kegajean ku selanjutnya.
MSPuput, 11 Oktober 2018, 12.50
Aku suka perpustakaan, tapi aku hanya datang ke rak buku berisi novel-novel atau buku cerita lainnya. Aku juga suka toko buku, dan jelas aku hanya menuju rak buku novel-novel. Aku menyukai membaca buku tapi jelas hanya buku yang bersifat fikti.
Gak tau untuk alasan apa aku menulis ini, aku hanya menyibukkan waktu ku karna saat ini aku berada di antara teman ku yang tengah sibuk dengan tugas kelompok. datang di urutan terakhir membuat ku bingung apa yang perlu didiskusikan. Dan disini lah aku duduk santai sambil menulis blog penuh laba-laba ku. Jelas ini garing. Terserah aku hanya menulis kata apa yang ada di kepala ku.
Ohh aku baru saja membuat kartu perpustakaan, disini di perpustakaan kota. Kemarin aku membuat kartu perpustakaan di kampus ku.
Sudah ku akhiri sampai disini sampai jumpa dengan kegajean ku selanjutnya.
MSPuput, 11 Oktober 2018, 12.50
Minggu, 07 Oktober 2018
Masalah
Setiap orang pasti punya masalah. Ntah itu masalah kecil atau masalah besar. Setiap orang juga punya cara untuk menyelesaikan masalah masing-masing. Ada yang dengan mudah menyelesaikan masalah ada yang terlihat kesusahan menyelesaikan masalah.
Mungkin kali ini gue bakal menggunakan bahasa yang lebih santai. Karna aslinya gue bener-bener gak pandai ngerangkai kata.
Back to the topic. orang-orang pasti punya cara mereka masing-masing buat nyelesain masalah. Mungkin ada yang memiliki masalah besar tapi terlihat kecil bagi orang lain. Dan mungkin juga ada yang memiliki masalah kecil tapi terlihat sulit menurut orang lain.
Jadi yang mau gue bahas adalah soal mereka yang sering ngeremehin masalah orang lain.
Mungkin dulu saat gue punya pemikiran sama gak dewasa nya kayak mereka, gue juga pernah ngeremehin masalah orang lain. Gue pasti pernah bilang "ahh gitu doang" waktu mereka selesai ceritain masalah mereka ke gue.
Tapi setelah gue ngerasain masalah yang mungkin keliatan mudah bagi mereka,tapi sulit bagi gue. Disitu gue sadar, kalo gak seharusnya gue ngeremehin masalah orang lain.
Mungkin keliatan sulit bagi orang lain tapi keliatan mudah buat kita. Setiap orang punya kemampuan masing-masing buat nyelesaiin masalah mereka, jadi gak seharusnya kita justru ngeremehin masalah mereka.
Ketika ada orang lain cerita soal masalah mereka dengarkan, mereka butuh cerita mereka di dengar bukan di remehkan. Kalau memang masalah mereka keliatan mudah beri mereka saran gimana cara nyelesain masalah itu, bukan justru di remehin.
Apalagi dengan bilang
"Ahh masalah itu doang"
"Mending lu, lah gua"
"Haelah masalah itu doang"
Daripada bilang gitu mending kasih semangat ke mereka semudah apa pun masalah mereka bagi kalian. Cukup kasih kata-kata penyemangat atau kasih saran kalau kalian punya saran. Kalau gak punya saran mending diam cukup elus punggung mereka atau pegang erat tangan mereka, dengan denger cerita mereka itu udah cukup ngasih kekuatan buat mereka.
Respect lah.
Gak sepantasnya kalian ngeremehin masalah mereka. Kalau memang masalah mereka keliatan mudah bagi kalian kasih mereka saran buat bangkit. itu lebih berguna daripada kalian ngeremehin masalah mereka.
Ingat, Respect lah kawan.
MSPuput, 8 Oktober 2018
Mungkin kali ini gue bakal menggunakan bahasa yang lebih santai. Karna aslinya gue bener-bener gak pandai ngerangkai kata.
Back to the topic. orang-orang pasti punya cara mereka masing-masing buat nyelesain masalah. Mungkin ada yang memiliki masalah besar tapi terlihat kecil bagi orang lain. Dan mungkin juga ada yang memiliki masalah kecil tapi terlihat sulit menurut orang lain.
Jadi yang mau gue bahas adalah soal mereka yang sering ngeremehin masalah orang lain.
Mungkin dulu saat gue punya pemikiran sama gak dewasa nya kayak mereka, gue juga pernah ngeremehin masalah orang lain. Gue pasti pernah bilang "ahh gitu doang" waktu mereka selesai ceritain masalah mereka ke gue.
Tapi setelah gue ngerasain masalah yang mungkin keliatan mudah bagi mereka,tapi sulit bagi gue. Disitu gue sadar, kalo gak seharusnya gue ngeremehin masalah orang lain.
Mungkin keliatan sulit bagi orang lain tapi keliatan mudah buat kita. Setiap orang punya kemampuan masing-masing buat nyelesaiin masalah mereka, jadi gak seharusnya kita justru ngeremehin masalah mereka.
Ketika ada orang lain cerita soal masalah mereka dengarkan, mereka butuh cerita mereka di dengar bukan di remehkan. Kalau memang masalah mereka keliatan mudah beri mereka saran gimana cara nyelesain masalah itu, bukan justru di remehin.
Apalagi dengan bilang
"Ahh masalah itu doang"
"Mending lu, lah gua"
"Haelah masalah itu doang"
Daripada bilang gitu mending kasih semangat ke mereka semudah apa pun masalah mereka bagi kalian. Cukup kasih kata-kata penyemangat atau kasih saran kalau kalian punya saran. Kalau gak punya saran mending diam cukup elus punggung mereka atau pegang erat tangan mereka, dengan denger cerita mereka itu udah cukup ngasih kekuatan buat mereka.
Respect lah.
Gak sepantasnya kalian ngeremehin masalah mereka. Kalau memang masalah mereka keliatan mudah bagi kalian kasih mereka saran buat bangkit. itu lebih berguna daripada kalian ngeremehin masalah mereka.
Ingat, Respect lah kawan.
MSPuput, 8 Oktober 2018
Kamis, 04 Oktober 2018
SALAH??
Kenapa mengaku salah sulit buat seseorang ?
Saat orang merasa bersalahbersalah, mengapa justtu mereka yang marah?
Yeah itu yang di lakuin kakak cowo ku pagi ini. Menyebalkan dan mengesalkan. Padahal aku gak bakal marah atau ngomel ngomelin dia, kenapa dia justru marah. Sampai berkeinginan menyobek ijazah SMK ku?
Pagi tadi aku di buat pusing karna bingung nyari dimana letak ijazah SMK ku. Sedangkan aku butuh ijazah itu untuk di kumpulkan pagi ini.
Aku yakin ijazah itu masih ada di tangan dia, tapi dia bersih keras bahwa sudah di kembalikan padaku. Dan ternyata benar ijazah ku memang masih ada dengannya. Tapi justru dia yang marah-marah๐๐. Menyebalkan.
MSPuput 5 Oktober 2018
Saat orang merasa bersalahbersalah, mengapa justtu mereka yang marah?
Yeah itu yang di lakuin kakak cowo ku pagi ini. Menyebalkan dan mengesalkan. Padahal aku gak bakal marah atau ngomel ngomelin dia, kenapa dia justru marah. Sampai berkeinginan menyobek ijazah SMK ku?
Pagi tadi aku di buat pusing karna bingung nyari dimana letak ijazah SMK ku. Sedangkan aku butuh ijazah itu untuk di kumpulkan pagi ini.
Aku yakin ijazah itu masih ada di tangan dia, tapi dia bersih keras bahwa sudah di kembalikan padaku. Dan ternyata benar ijazah ku memang masih ada dengannya. Tapi justru dia yang marah-marah๐๐. Menyebalkan.
MSPuput 5 Oktober 2018
Minggu, 25 Juni 2017
FLAT SHOES (chapter 1)
Flat shoes
Cast:
Lalisa manobal aka Lalisa Kang
Song Min Ho aka Mino
Kang Seungyoon aka Seungyoon
************
Lisa berjalan malas menyusuri jalan. Keadaan jalan yang sangat ramai, juga suasana hari yang sangat panas membuatnya semakin malas untuk melangkah. Andai ia memiliki supir yang selalu sedia mengantar dan menjemput dirinya mungkin ia tidak akan kepanasan seperti ini.
Lisa baru saja pulang dari sekolahnya. ia tidak mendapatkan bus karna saat itu bus sudah penuh, membuat ia harus dengan sabar berjalan ke halte lain. Ia bisa saja menunggu bus selanjutnya, namun untuk seorang Lisa yang paling malas dalam soal menunggu, membuat ia memutuskan untuk melangkah menuju halte lainnya.
Berjalan dari sekolah menuju rumah memang cukup memakan waktu lama. Ia harus menempuh perjalanan sekitar 20 menit. Ia juga harus menaiki bus yang akan berhenti di halte yang tidak jauh dari sekolah tempat ia bersekolah.
Suasana panas ini lah yang membuatnya semakin malas untuk berjalan. Keringat di pelipis semakin deras mengucur ke wajahnya. Sesekali ia menyeka keringat yang turun dengan sapu tangannya.
Ia tidak menyukai musim panas. ia lebih menyukai musim dingin. Ia lebih senang merasakan kedinginan daripada kepanasan. Karna kepanasan membuat ia seperti ingin mati.
Bayangan kamar miliknya muncul di kepala. Suasana kamar yang berwarna biru dipenuhi tempelan tempelan lucu yang sengaja ia tempel, juga AC kamar yang selalu bersedia menemani, membuat ia semakin enggan melangkahkan kaki. Di saat seperti inilah yang akan membuat ia mulai berkhayal memiliki pintu kemana saja milik Doraemon.
Yahh sayangnya itu hanya bisa ia rasakan di angan saja. Tidak ada pintu yang seperti itu di bumi ini. Pintu itu hanya diciptakan untuk membuat anak-anak melangsungkan khayalannya. Dasar film pembohong.
“huhhh”
Ia menghela nafas kuat, semakin malas untuk melangkah. Rasanya kaki semakin enggan untuk melangkah. Kalau bukan mengingat hari yang sangat panas seperti sekarang mungkin ia akan berhenti dan duduk di jalan yang sedang ia lalui saat ini.
Pandangannya terhenti pada sebuah toko yang menjual beragam sandal. Otaknya bekerja mengingat sandal lusuh yang ada di rumahnya. Sandal yang sudah menemaninya selama hampir 4 tahun. Mungkin ia harus membeli satu sandal, agar sandal yang ada dirumahnya bisa pensiun dari tugas.
Ia langkahkan kaki memasuki toko sandal tersebut. Membalas senyum saat salah satu pelayan menyambutnya di muka pintu. Melihat-lihat sandal yang terpajang rapi di tiap-tiap rak satu persatu.
Matanya tertuju pada salah satu sandal yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Sebuah flat shoes berwarna peach benar-benar menarik perhatiannya. Memang tidak terlalu bagus tapi pasti sangat cocok bila ia memakainya.
ia hampiri rak tempat flat shoes itu berada. Memandangnya dengan jarak dekat agar bisa dengan jelas melihat flat shoes itu. Ia ambil flat shoes itu lalu memandang setiap detail yang ada pada flat shoes itu.
“sepertinya flat shoes itu tidak akan cocok denganmu nona” ujar sebuah suara berat yang tidak jauh dari telinganya.
Lisa menatap kearah pemilik suara yang tepat berada di sebelahnya. Seorang lelaki tinggi dengan wajah yang cukup tampan, anni bukan cukup tapi sangat tampan. Hidungnya yang mancung, matanya yang sedikit sipit juga postur badannya yang cukup woaahh.
Apa ia sedang bermimpi? Apa ia sedang mendapatkan jackpot hari ini? Dia bukan seorang artiskan? Apa dia member salah satu boygroup terkenal?
Banyak pertanyaan berkecamuk di kepalanya menerka-nerka siapa lelaki itu. Bahkan Song Yunhyeong kakak kelas tertampan di sekolahnya kalah tampan dengan lelaki ini. Sungguh Lisa terpesona dengan lelaki itu saat ini.
“helooo? Apa kau akan membelinya?” Tanya lelaki itu sambil mengibaskan tangan di depan mata Lisa.
Namun, tetap tidak ada respon dari Lisa Yang membuat lelaki itu mulai kesal. Ia pandangi Lisa dari ujung kaki hingga ujung kepala. Seragam sekolah lengkap yang masih terpasang dibadan gadis ini, yang menandakan bahwa gadis ini seorang anak sekolahan.
“cihh dasar murid SMA” gumamnya malas.
Tak ingin membuang waktu lagi Mino –lelaki itu- akhirnya memutuskan mengambil paksa flat shoes yang berada di tangan Lisa. Tanpa memperdulikan Lisa, ia berjalan meninggalkan Lisa yang masih belum sadar dari pikirannya.
“dasar murid SMA aneh” ucap Mino dan pergi meninggalkan Lisa.
Melihat Mino yang sudah tidak ada lagi di depannya membuat Lisa sadar dari lamunan. Mencari-cari dimana keberadaan Mino sekarang. Matanya menatap tangan Mino yang tengah membawa flat shoes yang tadi ada di tangannya. Yah bukankah itu flast shoes peach yang membuat ia terpesona saat pertama masuk ke dalam toko tadi.
‘Tunggu, mengapa flat shoes itu sudah ada di tangan lelaki itu?’ pikir Lisa bingung.
Sadar bahwa flat shoes peach yang ia inginkan sudah berpindah tangan di tangan Mino. Membuatnya dengan sigap melangkahkan kaki mengejar Mino. Berjalan cepat menyusul Mino yang sudah setengah jalan menuju kasir.
Ia tidak akan membiar Mino memiliki flat shoes itu. Itu adalah flat shoes yang ia inginkan, tidak akan ia biarkan orang lain mengambil barang yang ia inginkan. Termasuk lelaki tampan itu yang tadi sudah berhasil membuatnya sedikit terpesona.
Lagipula bagaimana mungkin seorang lelaki memakai flat shoes. Apa dia seorang banci? Apa dia menyukai flat shoes? berbeda dengan lelaki lain yang biasanya lebih menyukain menggunakan sepatu sneakers.
Melihat Mino yang hampir sampai di kasir, membuat Lisa memutuskan untuk menahan langkah laki-laki itu dengan suaranya, “tungguuuu” teriak Lisa yang berhasil menahan langkah Mino.
Dengan gerak cepat Lisa berjalan menghampiri Mino dan berdiri di depan Mino untuk mehalangi Mino melanjutkan langkah kakinya. Lisa menatap Mino dengan garang. Ia merasa bahwa Mino sudah mencuri barang miliknya. Walau sebenarnya belum seutuhnya barang itu miliknya.
“tunggu, itu flat shoes milik ku” ucap Lisa sambil menunjuk flat shoes yang ada di tangan Mino.
“milik mu?” Tanya Mino bingung. “apa kau sudah membelinya?” Tanyanya lagi.
Lisa tergagap mendengar pertanyaan Mino, bingung harus menjawab apa dari pertanyaan Mino. Flat shoes itu memang belum seutuhnya menjadi miliknya karna ia belum membayar flat shoes itu. Tapi secepatnya ia akan membeli dan membayarnya kekasir jika Mino tidak dengan seenaknya merampas flat shoes itu dari tangannya. Salah ia sih yang sibuk melamun tadi.
“a… anni. Tapi akan” jawab Lisa tergagap. “aku sudah bersiap untuk membelinya tadi”
Mino melengos menatap Lisa malas “itu berarti ini belum menjadi hak mu nona” ucap Mino melewati Lisa.
‘Flat shoes itu memang belum menjadi milikku tapi akan’ pekik Lisa dalam hati.
Lisa meniup poninya dengan kasar, menahan emosinya yang sekarang siap untuk meledak. Kembali Lisa berjalan menghampiri Mino. Menahan langkah lelaki itu dengan berdiri di depannya.
“maaf tuan tapi aku yang akan membeli flat shoes itu, jadi ku mohon padamu untuk mengembalikannya padaku” ucap Lisa penuh penekanan.
Ia tatap tajam mata Mino yang sekarang juga mulai menatap tajam kearahnya. Semula Lisa merasa takut melihat tatapan itu. namun, bukan Lisa namanya jika ia menyerah begitu saja. Jadi ia pertajam tatapan mata kearah Mino.
Mino kembali memutar bola matanya. Lalu menatap kearah Lisa dengan muka kesal. Ia hanya ingin menjalani hari tanpa beban hari ini. Cukup hari ini tidak lebih.
Hari ini memang suasana hati tidak dalam keadaan yang baik. Tidak hanya hari ini memang setiap harinya, hari Mino tidak ada yang bagus. Ada ada saja hal menyebalkan yang harus ia hadapi setiap hari.
Tapi dia fikir hari ini berbeda, karna hari ini tepat hari dimana ia dan pacar yang sangat ia cintai itu mejalin hubungan selama setahun. Ia sudah mempersiapkan tempat yang sangat romantis untuknya dan pacarnya merayakan anniv pertama mereka. namun, dengan seenaknya saja pacarnya itu menelpon bahwa ada hal yang harus ia lakukan. Membuat akhirnya mereka membatalkan janji itu.
Mengingat hal itu mebuat Mino kembali kesal. Ingin rasanya ia memaki-maki saat ini. Ditatapnya Lisa yang masih menatap tajam. Sebenarnya ia dapat memaki saat ini karna ada sasaran empuk yang bisa membuatnya melampiaskan amarah yang ia tahan sejak tadi.
Namun, mengingat Lisa yang masih remaja SMA membuat ia mengurungkan niatnya itu. Ia tidak mau berurusan dengan murid SMA. Karna ia sangat tau betul bagaimana tabiat anak-anak yang masih berada di umur seitu.
Mereka masih saling melempar tatapan tajam yang membuat para pengunjung dan pelayan toko di buat bingung oleh tingkah mereka. Mereka memang tidak saling bertengkar tapi jika melihat mereka saling bertatap seperti itu justru membuat orang-orang akan bingung harus melakukan apa.
Tidak ada yang ingin mengalah, Lisa atau Mino masih tetap pada posisi mereka masing masing. Juga dengan tatapan mereka yang semakin tajam dan menusuk.
Merasa ia sudah banyak menghabiskan waktu karna remaja SMA ini membuat Mino akhirnya mengalah. Membiarkan flat shoes yang niat awal akan ia belikan untuk sang pacar di ambil oleh Lisa. Ia lemparkan flat shoes itu asal kearah Lisa. Lalu berlalu pergi tanpa peduli dengan Lisa yang sekarang telinga dan matanya sudah berasap menahan emosi.
“kau ambil saja” ucap Mino dan berlalu pergi melewati Lisa pergi keluar dari toko.
Lisa menatap punggung Mino dengan emosi yang sudah diatas ubun-ubun. Bagaimana bisa ada manusia sejenis itu hidup di bumi ini. Ia tidak terima dengan apa yang dilakukan Mino padanya. Memberi flat shoesnya dengan cara di lemparkan seperti itu? Sungguh sangat tidak sopan.
Selangkah ia langkahkan kakinya untuk mengejar Mino. Namun ia urungkan karna niat awal ia masuk ketoko ini bukan untuk cari ribut. Ia tidak ingin kehidupannya yang tentram dan damai harus berujung bermasalah dengan lelaki itu.
Yak seperti itulah Lisa, dia bukan lari dari masalah. ia hanya tidak ingin menambah masalah.
Namun, Lisa berjanji jika suatu saat dia bertemu lagi dengan lelaki itu ia akan melempar flat shoes itu kearah kepala lelaki itu. Lihat saja dia sudah berjanji akan membalas apa yang sudah ia dapatkan. Tapi akan lebih baik kalau ia tidak bertemu dengan lelaki itu lagi.
*********
Lisa berjalan malas menyusuri jalan menuju supermarket. Sedikit mengomel-ngomel karna ibunya yang dengan tiba-tiba menyuruhnya ke supermarket. Seharusnya ibunya sadar kalau hari ini sudah malam, bukankah tidak bagus bila ada seorang gadis berjalan sendirian di luar rumah.
Juga Seungyoon kakak laki-lakinya yang dengan cepat menolak untuk menemani ke supermarket. Awas saja jika terjadi sesuatu padanya nanti akan ia tuntut mereka karna sudah membiarkan gadis cantik sepertinya berjalan sendirian diluar rumah. Awas saja.
Suasana malam pada hari itu memang sangat dingin. Padahal sekarang adalah musim panas ia tidak menyangka bahwa ternyata malam pada musim panas tetaplah terasa dingin. membuatnya sedikit mempeeratkan jaket yang sedang ia kenakan.
Sesampainya di tempat supermarket, ia masuk ke dalam supermarket. Memilih barang sesuai yang di suruh oleh ibunya tadi. Tidak susah mencarinya, ia bisa dengan mudah mendapatkannya.
Setelah membayar ke meja kasir, Lisa membawa barang belanjaan keluar dari supermarket. Berjalan untuk kembali kerumahnya. Rumah yang hangat serta nyaman untuk di tinggali.
Braakkk……
Suara gaduh dari sebuah gang gelap tiba-tiba saja mengagetkannya. Membuat langkah lisa sedikit terhenti. Ia pertajamkan fungsi telinga untuk mendengar apa yang terjadi.
Ia tengah berdiri tepat di depan gang gelap itu. Ia yakin bahwa suara itu berasal dari dalam gang yang sedang ia lihat sekarang. Ia pertajam pandangannya ke arah gang, sedikit menyipitkan matanya. Namun tetap saja tidak terlihat apa-apa.
Samar-sama ia mendengar suara orang-orang yang sedang berbicara disana. Pembicaraan mereka tidak terdengar jelas ditelinganya. Cuma dengan cepat ia menyadarkan diri bahwa itu bukanlah urusannya.
Lisa lanjutkan lagi langkah kaki yang sempat terhenti. Melupakan kejadian didalam gang yang membuatnya sedikit penasaran. Sebenarnya ia masih ingin mengetahui apa yang sudah terjadi, tapi ia tidak boleh menghadapi resiko yang belum ia ketahui apa yang akan terjadi nanti.
Bisa saja itu adalah segerombolan preman yang sedang menjalani aksi mereka. atau mungkin hanya segerombolan pemabuk yang sedang melakukan ulahnya. Atau mungkin karna karna yang lain yang bisa saja menyeret ia masuk kedalam pemasalahan yang serius.
Ahh ia tidak suka permasalahan yang serius. Hidupnya terlalu damai untuk menghadapi hal serius seperti itu. Hidup damai seperti saat ini ia rasakan sudah membuatnya senang.
Tak berapa lama Lisa kembali mendengar suara orang yang tengah sibuk dengan pembicaraannya. Suara itu berada di belakang yang ia yakini berasal dari gang gelap yang ia liat tadi. Karna penasaran Lisa kembali berbalik menghadap gang gelap tadi.
Segerombolan lelaki berotot besar yang ia yakini adalah preman berjalan keluar dari dalam gang itu. Otot-ototnya yang besar membuat Lisa meneguk paksa ludahnya. Lisa bergidik ngeri melihatnya.
Benar apa yang ia pikirkan, bahwa itu ulah preman-preman yang sedang melakukan aksinya. Untung ia tidak dengan gegabah masuk kedalam gang itu. Kalau tidak, mungkin sekarang badannya sudah ikut babak belur dihajar preman itu karna sudah mencampuri urusan mereka.
Pandangan Lisa menangkap seseorang dengan muka yang lebam tengah berjalan tertatih-tatih keluar dari gang tersebut. Mulutnya sedikit ternganga melihat keadaan lelaki itu yang sangat memprihatinkan. Pastilah itu ulah dari segerombolan preman tadi.
Keadaan laki-laki itu sangat mengenaskan, matanya membiru, pipinya juga biru, serta bibirnya yang sobek membuat Lisa merasa sangat prihatin melihatnya. Juga baju yang tengah lelaki itu kenakan sudah tidak beraturan lagi bentuknya. Sungguh pemandangan yang sangat mengenaskan.
Apa yang harus ia lakukan? Lisa mulai berfikir jalan apa yang harus ia lakukan. Apa ia harus menolong lelaki itu atau membiarkannya lalu berjalan pulang menuju rumah. Otaknya memilih untuk membiarkan saja lelaki itu dan melanjutkan langkah kaki menuju rumah, namun sebagian hatinya merasakan kasihan dan ingin membantu lelaki itu.
Lisa memilih berbalik kearah jalan menuju rumahnya. Ia lebih memilih keputusan dari otaknya. Ia tidak boleh ikut terseret dalam permasalahan lelaki yang sama sekali tidak ia kenal itu.
Lelaki itu baru saja keluar dari gang tempat para preman itu keluar. Pastilah lelaki itu korban dari preman-preman itu tadi. Benar ia tidak boleh mengambil resiko yang bisa dengan kapan pun bisa menyeretnya masuk kedalam masalah mereka.
Lagipula ia bukanlah tipikal orang yang suka mencampuri urusan orang lain. masalahnya saja suka tidak ia urus apalagi mengurusi masalah orang lain. yah itu bukan urusannya.
“arrgghh”
Langkah kaki yang lisa lanjutkan untuk menuju pulang kerumahnya kembali terhenti. Saat mendengar sebuah teriakan yang berasal dari belakangnya. Ia yakin pasti itu berasal dari lelaki tadi.
Digigit bibir bawahnya sedikit kuat. Bingung dengan pikirannya. Sekarang ia benar benar merasa kasihan dengan lelaki itu. Ia balikkan badan mengarah tempat lelaki itu tadi. Matanya terbelalak melihat lelaki itu yang sudah tekapar lemah di tanah.
“ahhjussi gwenchana?” Tanya Lisa dan menghampiri lelaki tersebut dengan cepat. “ahh ottokeo” bingung Lisa.
**********
Cast:
Lalisa manobal aka Lalisa Kang
Song Min Ho aka Mino
Kang Seungyoon aka Seungyoon
************
Lisa berjalan malas menyusuri jalan. Keadaan jalan yang sangat ramai, juga suasana hari yang sangat panas membuatnya semakin malas untuk melangkah. Andai ia memiliki supir yang selalu sedia mengantar dan menjemput dirinya mungkin ia tidak akan kepanasan seperti ini.
Lisa baru saja pulang dari sekolahnya. ia tidak mendapatkan bus karna saat itu bus sudah penuh, membuat ia harus dengan sabar berjalan ke halte lain. Ia bisa saja menunggu bus selanjutnya, namun untuk seorang Lisa yang paling malas dalam soal menunggu, membuat ia memutuskan untuk melangkah menuju halte lainnya.
Berjalan dari sekolah menuju rumah memang cukup memakan waktu lama. Ia harus menempuh perjalanan sekitar 20 menit. Ia juga harus menaiki bus yang akan berhenti di halte yang tidak jauh dari sekolah tempat ia bersekolah.
Suasana panas ini lah yang membuatnya semakin malas untuk berjalan. Keringat di pelipis semakin deras mengucur ke wajahnya. Sesekali ia menyeka keringat yang turun dengan sapu tangannya.
Ia tidak menyukai musim panas. ia lebih menyukai musim dingin. Ia lebih senang merasakan kedinginan daripada kepanasan. Karna kepanasan membuat ia seperti ingin mati.
Bayangan kamar miliknya muncul di kepala. Suasana kamar yang berwarna biru dipenuhi tempelan tempelan lucu yang sengaja ia tempel, juga AC kamar yang selalu bersedia menemani, membuat ia semakin enggan melangkahkan kaki. Di saat seperti inilah yang akan membuat ia mulai berkhayal memiliki pintu kemana saja milik Doraemon.
Yahh sayangnya itu hanya bisa ia rasakan di angan saja. Tidak ada pintu yang seperti itu di bumi ini. Pintu itu hanya diciptakan untuk membuat anak-anak melangsungkan khayalannya. Dasar film pembohong.
“huhhh”
Ia menghela nafas kuat, semakin malas untuk melangkah. Rasanya kaki semakin enggan untuk melangkah. Kalau bukan mengingat hari yang sangat panas seperti sekarang mungkin ia akan berhenti dan duduk di jalan yang sedang ia lalui saat ini.
Pandangannya terhenti pada sebuah toko yang menjual beragam sandal. Otaknya bekerja mengingat sandal lusuh yang ada di rumahnya. Sandal yang sudah menemaninya selama hampir 4 tahun. Mungkin ia harus membeli satu sandal, agar sandal yang ada dirumahnya bisa pensiun dari tugas.
Ia langkahkan kaki memasuki toko sandal tersebut. Membalas senyum saat salah satu pelayan menyambutnya di muka pintu. Melihat-lihat sandal yang terpajang rapi di tiap-tiap rak satu persatu.
Matanya tertuju pada salah satu sandal yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Sebuah flat shoes berwarna peach benar-benar menarik perhatiannya. Memang tidak terlalu bagus tapi pasti sangat cocok bila ia memakainya.
ia hampiri rak tempat flat shoes itu berada. Memandangnya dengan jarak dekat agar bisa dengan jelas melihat flat shoes itu. Ia ambil flat shoes itu lalu memandang setiap detail yang ada pada flat shoes itu.
“sepertinya flat shoes itu tidak akan cocok denganmu nona” ujar sebuah suara berat yang tidak jauh dari telinganya.
Lisa menatap kearah pemilik suara yang tepat berada di sebelahnya. Seorang lelaki tinggi dengan wajah yang cukup tampan, anni bukan cukup tapi sangat tampan. Hidungnya yang mancung, matanya yang sedikit sipit juga postur badannya yang cukup woaahh.
Apa ia sedang bermimpi? Apa ia sedang mendapatkan jackpot hari ini? Dia bukan seorang artiskan? Apa dia member salah satu boygroup terkenal?
Banyak pertanyaan berkecamuk di kepalanya menerka-nerka siapa lelaki itu. Bahkan Song Yunhyeong kakak kelas tertampan di sekolahnya kalah tampan dengan lelaki ini. Sungguh Lisa terpesona dengan lelaki itu saat ini.
“helooo? Apa kau akan membelinya?” Tanya lelaki itu sambil mengibaskan tangan di depan mata Lisa.
Namun, tetap tidak ada respon dari Lisa Yang membuat lelaki itu mulai kesal. Ia pandangi Lisa dari ujung kaki hingga ujung kepala. Seragam sekolah lengkap yang masih terpasang dibadan gadis ini, yang menandakan bahwa gadis ini seorang anak sekolahan.
“cihh dasar murid SMA” gumamnya malas.
Tak ingin membuang waktu lagi Mino –lelaki itu- akhirnya memutuskan mengambil paksa flat shoes yang berada di tangan Lisa. Tanpa memperdulikan Lisa, ia berjalan meninggalkan Lisa yang masih belum sadar dari pikirannya.
“dasar murid SMA aneh” ucap Mino dan pergi meninggalkan Lisa.
Melihat Mino yang sudah tidak ada lagi di depannya membuat Lisa sadar dari lamunan. Mencari-cari dimana keberadaan Mino sekarang. Matanya menatap tangan Mino yang tengah membawa flat shoes yang tadi ada di tangannya. Yah bukankah itu flast shoes peach yang membuat ia terpesona saat pertama masuk ke dalam toko tadi.
‘Tunggu, mengapa flat shoes itu sudah ada di tangan lelaki itu?’ pikir Lisa bingung.
Sadar bahwa flat shoes peach yang ia inginkan sudah berpindah tangan di tangan Mino. Membuatnya dengan sigap melangkahkan kaki mengejar Mino. Berjalan cepat menyusul Mino yang sudah setengah jalan menuju kasir.
Ia tidak akan membiar Mino memiliki flat shoes itu. Itu adalah flat shoes yang ia inginkan, tidak akan ia biarkan orang lain mengambil barang yang ia inginkan. Termasuk lelaki tampan itu yang tadi sudah berhasil membuatnya sedikit terpesona.
Lagipula bagaimana mungkin seorang lelaki memakai flat shoes. Apa dia seorang banci? Apa dia menyukai flat shoes? berbeda dengan lelaki lain yang biasanya lebih menyukain menggunakan sepatu sneakers.
Melihat Mino yang hampir sampai di kasir, membuat Lisa memutuskan untuk menahan langkah laki-laki itu dengan suaranya, “tungguuuu” teriak Lisa yang berhasil menahan langkah Mino.
Dengan gerak cepat Lisa berjalan menghampiri Mino dan berdiri di depan Mino untuk mehalangi Mino melanjutkan langkah kakinya. Lisa menatap Mino dengan garang. Ia merasa bahwa Mino sudah mencuri barang miliknya. Walau sebenarnya belum seutuhnya barang itu miliknya.
“tunggu, itu flat shoes milik ku” ucap Lisa sambil menunjuk flat shoes yang ada di tangan Mino.
“milik mu?” Tanya Mino bingung. “apa kau sudah membelinya?” Tanyanya lagi.
Lisa tergagap mendengar pertanyaan Mino, bingung harus menjawab apa dari pertanyaan Mino. Flat shoes itu memang belum seutuhnya menjadi miliknya karna ia belum membayar flat shoes itu. Tapi secepatnya ia akan membeli dan membayarnya kekasir jika Mino tidak dengan seenaknya merampas flat shoes itu dari tangannya. Salah ia sih yang sibuk melamun tadi.
“a… anni. Tapi akan” jawab Lisa tergagap. “aku sudah bersiap untuk membelinya tadi”
Mino melengos menatap Lisa malas “itu berarti ini belum menjadi hak mu nona” ucap Mino melewati Lisa.
‘Flat shoes itu memang belum menjadi milikku tapi akan’ pekik Lisa dalam hati.
Lisa meniup poninya dengan kasar, menahan emosinya yang sekarang siap untuk meledak. Kembali Lisa berjalan menghampiri Mino. Menahan langkah lelaki itu dengan berdiri di depannya.
“maaf tuan tapi aku yang akan membeli flat shoes itu, jadi ku mohon padamu untuk mengembalikannya padaku” ucap Lisa penuh penekanan.
Ia tatap tajam mata Mino yang sekarang juga mulai menatap tajam kearahnya. Semula Lisa merasa takut melihat tatapan itu. namun, bukan Lisa namanya jika ia menyerah begitu saja. Jadi ia pertajam tatapan mata kearah Mino.
Mino kembali memutar bola matanya. Lalu menatap kearah Lisa dengan muka kesal. Ia hanya ingin menjalani hari tanpa beban hari ini. Cukup hari ini tidak lebih.
Hari ini memang suasana hati tidak dalam keadaan yang baik. Tidak hanya hari ini memang setiap harinya, hari Mino tidak ada yang bagus. Ada ada saja hal menyebalkan yang harus ia hadapi setiap hari.
Tapi dia fikir hari ini berbeda, karna hari ini tepat hari dimana ia dan pacar yang sangat ia cintai itu mejalin hubungan selama setahun. Ia sudah mempersiapkan tempat yang sangat romantis untuknya dan pacarnya merayakan anniv pertama mereka. namun, dengan seenaknya saja pacarnya itu menelpon bahwa ada hal yang harus ia lakukan. Membuat akhirnya mereka membatalkan janji itu.
Mengingat hal itu mebuat Mino kembali kesal. Ingin rasanya ia memaki-maki saat ini. Ditatapnya Lisa yang masih menatap tajam. Sebenarnya ia dapat memaki saat ini karna ada sasaran empuk yang bisa membuatnya melampiaskan amarah yang ia tahan sejak tadi.
Namun, mengingat Lisa yang masih remaja SMA membuat ia mengurungkan niatnya itu. Ia tidak mau berurusan dengan murid SMA. Karna ia sangat tau betul bagaimana tabiat anak-anak yang masih berada di umur seitu.
Mereka masih saling melempar tatapan tajam yang membuat para pengunjung dan pelayan toko di buat bingung oleh tingkah mereka. Mereka memang tidak saling bertengkar tapi jika melihat mereka saling bertatap seperti itu justru membuat orang-orang akan bingung harus melakukan apa.
Tidak ada yang ingin mengalah, Lisa atau Mino masih tetap pada posisi mereka masing masing. Juga dengan tatapan mereka yang semakin tajam dan menusuk.
Merasa ia sudah banyak menghabiskan waktu karna remaja SMA ini membuat Mino akhirnya mengalah. Membiarkan flat shoes yang niat awal akan ia belikan untuk sang pacar di ambil oleh Lisa. Ia lemparkan flat shoes itu asal kearah Lisa. Lalu berlalu pergi tanpa peduli dengan Lisa yang sekarang telinga dan matanya sudah berasap menahan emosi.
“kau ambil saja” ucap Mino dan berlalu pergi melewati Lisa pergi keluar dari toko.
Lisa menatap punggung Mino dengan emosi yang sudah diatas ubun-ubun. Bagaimana bisa ada manusia sejenis itu hidup di bumi ini. Ia tidak terima dengan apa yang dilakukan Mino padanya. Memberi flat shoesnya dengan cara di lemparkan seperti itu? Sungguh sangat tidak sopan.
Selangkah ia langkahkan kakinya untuk mengejar Mino. Namun ia urungkan karna niat awal ia masuk ketoko ini bukan untuk cari ribut. Ia tidak ingin kehidupannya yang tentram dan damai harus berujung bermasalah dengan lelaki itu.
Yak seperti itulah Lisa, dia bukan lari dari masalah. ia hanya tidak ingin menambah masalah.
Namun, Lisa berjanji jika suatu saat dia bertemu lagi dengan lelaki itu ia akan melempar flat shoes itu kearah kepala lelaki itu. Lihat saja dia sudah berjanji akan membalas apa yang sudah ia dapatkan. Tapi akan lebih baik kalau ia tidak bertemu dengan lelaki itu lagi.
*********
Lisa berjalan malas menyusuri jalan menuju supermarket. Sedikit mengomel-ngomel karna ibunya yang dengan tiba-tiba menyuruhnya ke supermarket. Seharusnya ibunya sadar kalau hari ini sudah malam, bukankah tidak bagus bila ada seorang gadis berjalan sendirian di luar rumah.
Juga Seungyoon kakak laki-lakinya yang dengan cepat menolak untuk menemani ke supermarket. Awas saja jika terjadi sesuatu padanya nanti akan ia tuntut mereka karna sudah membiarkan gadis cantik sepertinya berjalan sendirian diluar rumah. Awas saja.
Suasana malam pada hari itu memang sangat dingin. Padahal sekarang adalah musim panas ia tidak menyangka bahwa ternyata malam pada musim panas tetaplah terasa dingin. membuatnya sedikit mempeeratkan jaket yang sedang ia kenakan.
Sesampainya di tempat supermarket, ia masuk ke dalam supermarket. Memilih barang sesuai yang di suruh oleh ibunya tadi. Tidak susah mencarinya, ia bisa dengan mudah mendapatkannya.
Setelah membayar ke meja kasir, Lisa membawa barang belanjaan keluar dari supermarket. Berjalan untuk kembali kerumahnya. Rumah yang hangat serta nyaman untuk di tinggali.
Braakkk……
Suara gaduh dari sebuah gang gelap tiba-tiba saja mengagetkannya. Membuat langkah lisa sedikit terhenti. Ia pertajamkan fungsi telinga untuk mendengar apa yang terjadi.
Ia tengah berdiri tepat di depan gang gelap itu. Ia yakin bahwa suara itu berasal dari dalam gang yang sedang ia lihat sekarang. Ia pertajam pandangannya ke arah gang, sedikit menyipitkan matanya. Namun tetap saja tidak terlihat apa-apa.
Samar-sama ia mendengar suara orang-orang yang sedang berbicara disana. Pembicaraan mereka tidak terdengar jelas ditelinganya. Cuma dengan cepat ia menyadarkan diri bahwa itu bukanlah urusannya.
Lisa lanjutkan lagi langkah kaki yang sempat terhenti. Melupakan kejadian didalam gang yang membuatnya sedikit penasaran. Sebenarnya ia masih ingin mengetahui apa yang sudah terjadi, tapi ia tidak boleh menghadapi resiko yang belum ia ketahui apa yang akan terjadi nanti.
Bisa saja itu adalah segerombolan preman yang sedang menjalani aksi mereka. atau mungkin hanya segerombolan pemabuk yang sedang melakukan ulahnya. Atau mungkin karna karna yang lain yang bisa saja menyeret ia masuk kedalam pemasalahan yang serius.
Ahh ia tidak suka permasalahan yang serius. Hidupnya terlalu damai untuk menghadapi hal serius seperti itu. Hidup damai seperti saat ini ia rasakan sudah membuatnya senang.
Tak berapa lama Lisa kembali mendengar suara orang yang tengah sibuk dengan pembicaraannya. Suara itu berada di belakang yang ia yakini berasal dari gang gelap yang ia liat tadi. Karna penasaran Lisa kembali berbalik menghadap gang gelap tadi.
Segerombolan lelaki berotot besar yang ia yakini adalah preman berjalan keluar dari dalam gang itu. Otot-ototnya yang besar membuat Lisa meneguk paksa ludahnya. Lisa bergidik ngeri melihatnya.
Benar apa yang ia pikirkan, bahwa itu ulah preman-preman yang sedang melakukan aksinya. Untung ia tidak dengan gegabah masuk kedalam gang itu. Kalau tidak, mungkin sekarang badannya sudah ikut babak belur dihajar preman itu karna sudah mencampuri urusan mereka.
Pandangan Lisa menangkap seseorang dengan muka yang lebam tengah berjalan tertatih-tatih keluar dari gang tersebut. Mulutnya sedikit ternganga melihat keadaan lelaki itu yang sangat memprihatinkan. Pastilah itu ulah dari segerombolan preman tadi.
Keadaan laki-laki itu sangat mengenaskan, matanya membiru, pipinya juga biru, serta bibirnya yang sobek membuat Lisa merasa sangat prihatin melihatnya. Juga baju yang tengah lelaki itu kenakan sudah tidak beraturan lagi bentuknya. Sungguh pemandangan yang sangat mengenaskan.
Apa yang harus ia lakukan? Lisa mulai berfikir jalan apa yang harus ia lakukan. Apa ia harus menolong lelaki itu atau membiarkannya lalu berjalan pulang menuju rumah. Otaknya memilih untuk membiarkan saja lelaki itu dan melanjutkan langkah kaki menuju rumah, namun sebagian hatinya merasakan kasihan dan ingin membantu lelaki itu.
Lisa memilih berbalik kearah jalan menuju rumahnya. Ia lebih memilih keputusan dari otaknya. Ia tidak boleh ikut terseret dalam permasalahan lelaki yang sama sekali tidak ia kenal itu.
Lelaki itu baru saja keluar dari gang tempat para preman itu keluar. Pastilah lelaki itu korban dari preman-preman itu tadi. Benar ia tidak boleh mengambil resiko yang bisa dengan kapan pun bisa menyeretnya masuk kedalam masalah mereka.
Lagipula ia bukanlah tipikal orang yang suka mencampuri urusan orang lain. masalahnya saja suka tidak ia urus apalagi mengurusi masalah orang lain. yah itu bukan urusannya.
“arrgghh”
Langkah kaki yang lisa lanjutkan untuk menuju pulang kerumahnya kembali terhenti. Saat mendengar sebuah teriakan yang berasal dari belakangnya. Ia yakin pasti itu berasal dari lelaki tadi.
Digigit bibir bawahnya sedikit kuat. Bingung dengan pikirannya. Sekarang ia benar benar merasa kasihan dengan lelaki itu. Ia balikkan badan mengarah tempat lelaki itu tadi. Matanya terbelalak melihat lelaki itu yang sudah tekapar lemah di tanah.
“ahhjussi gwenchana?” Tanya Lisa dan menghampiri lelaki tersebut dengan cepat. “ahh ottokeo” bingung Lisa.
**********
FLAT SHOES (Prolog)
Flat shoes
Lisa
Aku tidak tau ada apa dengan ku. Kehidupan ku banyak berubah saat bertemu dengan lelaki yang tak sengaja ku selamatkan, hah? Selamatkan? Aku sungguh tidak tau mengapa aku mau menyelamatkannya.
Dan lagi kehidupan ku yang tentram dan damai menjadi hancur karna lelaki itu. dia selalu seenaknya menganggu ku, membuat kepala ku ingin pecah karna menahan emosi. Mungkin jika polisi tidak ada di bumi ini aku sudah akan membunuhnya.
Mino
Siapa sangka ditinggal bertunangan oleh seorang wanita yang sangat ku cintai itu, membuat ku bisa bertemu dengan gadis yang sangat menarik perhatian ku. Dia jauh dari type ideal ku tapi ntah mengapa aku ingin selalu menemuinya.
Ahh dia bahkan senang berkata kotor, sifat wanita yang sangat tidak ku sukai. Masuk kedalam kehidupan gadis itu membuat kehidupan ku yang seperti biasa banyak berubah. Bukan hanya dia yang aneh, tapi orang sekitarnya juga aneh, membuatku semakin betah berada bersamanya.
Cast:
Lalisa Manobal sebagai Lalisa kang aka Lisa
Song Min Ho sebagai Song Min Ho aka Mino
Kang Seung Yoon sebagai Kang Seung Yoon aka Seungyoon
Dong Young Bae sebagai Dong Young Bae aka Taeyang
Kim Ji Soo sebagai Kim Ji Soo aka Jisoo
Kim Dong Hyuk sebagai Kim Dong Hyuk aka Donghyuk
Kim Jennie sebagai Kim Jennie aka jennie
Lee Seung Hoon sebagai Lee Seung Hoon aka Seunghoon
Lisa
Aku tidak tau ada apa dengan ku. Kehidupan ku banyak berubah saat bertemu dengan lelaki yang tak sengaja ku selamatkan, hah? Selamatkan? Aku sungguh tidak tau mengapa aku mau menyelamatkannya.
Dan lagi kehidupan ku yang tentram dan damai menjadi hancur karna lelaki itu. dia selalu seenaknya menganggu ku, membuat kepala ku ingin pecah karna menahan emosi. Mungkin jika polisi tidak ada di bumi ini aku sudah akan membunuhnya.
Mino
Siapa sangka ditinggal bertunangan oleh seorang wanita yang sangat ku cintai itu, membuat ku bisa bertemu dengan gadis yang sangat menarik perhatian ku. Dia jauh dari type ideal ku tapi ntah mengapa aku ingin selalu menemuinya.
Ahh dia bahkan senang berkata kotor, sifat wanita yang sangat tidak ku sukai. Masuk kedalam kehidupan gadis itu membuat kehidupan ku yang seperti biasa banyak berubah. Bukan hanya dia yang aneh, tapi orang sekitarnya juga aneh, membuatku semakin betah berada bersamanya.
Cast:
Lalisa Manobal sebagai Lalisa kang aka Lisa
Song Min Ho sebagai Song Min Ho aka Mino
Kang Seung Yoon sebagai Kang Seung Yoon aka Seungyoon
Dong Young Bae sebagai Dong Young Bae aka Taeyang
Kim Ji Soo sebagai Kim Ji Soo aka Jisoo
Kim Dong Hyuk sebagai Kim Dong Hyuk aka Donghyuk
Kim Jennie sebagai Kim Jennie aka jennie
Lee Seung Hoon sebagai Lee Seung Hoon aka Seunghoon
Langganan:
Postingan (Atom)

