Flat shoes
Cast:
Lalisa manobal aka Lalisa Kang
Song Min Ho aka Mino
Kang Seungyoon aka Seungyoon
************
Lisa berjalan malas menyusuri jalan. Keadaan jalan yang sangat ramai, juga suasana hari yang sangat panas membuatnya semakin malas untuk melangkah. Andai ia memiliki supir yang selalu sedia mengantar dan menjemput dirinya mungkin ia tidak akan kepanasan seperti ini.
Lisa baru saja pulang dari sekolahnya. ia tidak mendapatkan bus karna saat itu bus sudah penuh, membuat ia harus dengan sabar berjalan ke halte lain. Ia bisa saja menunggu bus selanjutnya, namun untuk seorang Lisa yang paling malas dalam soal menunggu, membuat ia memutuskan untuk melangkah menuju halte lainnya.
Berjalan dari sekolah menuju rumah memang cukup memakan waktu lama. Ia harus menempuh perjalanan sekitar 20 menit. Ia juga harus menaiki bus yang akan berhenti di halte yang tidak jauh dari sekolah tempat ia bersekolah.
Suasana panas ini lah yang membuatnya semakin malas untuk berjalan. Keringat di pelipis semakin deras mengucur ke wajahnya. Sesekali ia menyeka keringat yang turun dengan sapu tangannya.
Ia tidak menyukai musim panas. ia lebih menyukai musim dingin. Ia lebih senang merasakan kedinginan daripada kepanasan. Karna kepanasan membuat ia seperti ingin mati.
Bayangan kamar miliknya muncul di kepala. Suasana kamar yang berwarna biru dipenuhi tempelan tempelan lucu yang sengaja ia tempel, juga AC kamar yang selalu bersedia menemani, membuat ia semakin enggan melangkahkan kaki. Di saat seperti inilah yang akan membuat ia mulai berkhayal memiliki pintu kemana saja milik Doraemon.
Yahh sayangnya itu hanya bisa ia rasakan di angan saja. Tidak ada pintu yang seperti itu di bumi ini. Pintu itu hanya diciptakan untuk membuat anak-anak melangsungkan khayalannya. Dasar film pembohong.
“huhhh”
Ia menghela nafas kuat, semakin malas untuk melangkah. Rasanya kaki semakin enggan untuk melangkah. Kalau bukan mengingat hari yang sangat panas seperti sekarang mungkin ia akan berhenti dan duduk di jalan yang sedang ia lalui saat ini.
Pandangannya terhenti pada sebuah toko yang menjual beragam sandal. Otaknya bekerja mengingat sandal lusuh yang ada di rumahnya. Sandal yang sudah menemaninya selama hampir 4 tahun. Mungkin ia harus membeli satu sandal, agar sandal yang ada dirumahnya bisa pensiun dari tugas.
Ia langkahkan kaki memasuki toko sandal tersebut. Membalas senyum saat salah satu pelayan menyambutnya di muka pintu. Melihat-lihat sandal yang terpajang rapi di tiap-tiap rak satu persatu.
Matanya tertuju pada salah satu sandal yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Sebuah flat shoes berwarna peach benar-benar menarik perhatiannya. Memang tidak terlalu bagus tapi pasti sangat cocok bila ia memakainya.
ia hampiri rak tempat flat shoes itu berada. Memandangnya dengan jarak dekat agar bisa dengan jelas melihat flat shoes itu. Ia ambil flat shoes itu lalu memandang setiap detail yang ada pada flat shoes itu.
“sepertinya flat shoes itu tidak akan cocok denganmu nona” ujar sebuah suara berat yang tidak jauh dari telinganya.
Lisa menatap kearah pemilik suara yang tepat berada di sebelahnya. Seorang lelaki tinggi dengan wajah yang cukup tampan, anni bukan cukup tapi sangat tampan. Hidungnya yang mancung, matanya yang sedikit sipit juga postur badannya yang cukup woaahh.
Apa ia sedang bermimpi? Apa ia sedang mendapatkan jackpot hari ini? Dia bukan seorang artiskan? Apa dia member salah satu boygroup terkenal?
Banyak pertanyaan berkecamuk di kepalanya menerka-nerka siapa lelaki itu. Bahkan Song Yunhyeong kakak kelas tertampan di sekolahnya kalah tampan dengan lelaki ini. Sungguh Lisa terpesona dengan lelaki itu saat ini.
“helooo? Apa kau akan membelinya?” Tanya lelaki itu sambil mengibaskan tangan di depan mata Lisa.
Namun, tetap tidak ada respon dari Lisa Yang membuat lelaki itu mulai kesal. Ia pandangi Lisa dari ujung kaki hingga ujung kepala. Seragam sekolah lengkap yang masih terpasang dibadan gadis ini, yang menandakan bahwa gadis ini seorang anak sekolahan.
“cihh dasar murid SMA” gumamnya malas.
Tak ingin membuang waktu lagi Mino –lelaki itu- akhirnya memutuskan mengambil paksa flat shoes yang berada di tangan Lisa. Tanpa memperdulikan Lisa, ia berjalan meninggalkan Lisa yang masih belum sadar dari pikirannya.
“dasar murid SMA aneh” ucap Mino dan pergi meninggalkan Lisa.
Melihat Mino yang sudah tidak ada lagi di depannya membuat Lisa sadar dari lamunan. Mencari-cari dimana keberadaan Mino sekarang. Matanya menatap tangan Mino yang tengah membawa flat shoes yang tadi ada di tangannya. Yah bukankah itu flast shoes peach yang membuat ia terpesona saat pertama masuk ke dalam toko tadi.
‘Tunggu, mengapa flat shoes itu sudah ada di tangan lelaki itu?’ pikir Lisa bingung.
Sadar bahwa flat shoes peach yang ia inginkan sudah berpindah tangan di tangan Mino. Membuatnya dengan sigap melangkahkan kaki mengejar Mino. Berjalan cepat menyusul Mino yang sudah setengah jalan menuju kasir.
Ia tidak akan membiar Mino memiliki flat shoes itu. Itu adalah flat shoes yang ia inginkan, tidak akan ia biarkan orang lain mengambil barang yang ia inginkan. Termasuk lelaki tampan itu yang tadi sudah berhasil membuatnya sedikit terpesona.
Lagipula bagaimana mungkin seorang lelaki memakai flat shoes. Apa dia seorang banci? Apa dia menyukai flat shoes? berbeda dengan lelaki lain yang biasanya lebih menyukain menggunakan sepatu sneakers.
Melihat Mino yang hampir sampai di kasir, membuat Lisa memutuskan untuk menahan langkah laki-laki itu dengan suaranya, “tungguuuu” teriak Lisa yang berhasil menahan langkah Mino.
Dengan gerak cepat Lisa berjalan menghampiri Mino dan berdiri di depan Mino untuk mehalangi Mino melanjutkan langkah kakinya. Lisa menatap Mino dengan garang. Ia merasa bahwa Mino sudah mencuri barang miliknya. Walau sebenarnya belum seutuhnya barang itu miliknya.
“tunggu, itu flat shoes milik ku” ucap Lisa sambil menunjuk flat shoes yang ada di tangan Mino.
“milik mu?” Tanya Mino bingung. “apa kau sudah membelinya?” Tanyanya lagi.
Lisa tergagap mendengar pertanyaan Mino, bingung harus menjawab apa dari pertanyaan Mino. Flat shoes itu memang belum seutuhnya menjadi miliknya karna ia belum membayar flat shoes itu. Tapi secepatnya ia akan membeli dan membayarnya kekasir jika Mino tidak dengan seenaknya merampas flat shoes itu dari tangannya. Salah ia sih yang sibuk melamun tadi.
“a… anni. Tapi akan” jawab Lisa tergagap. “aku sudah bersiap untuk membelinya tadi”
Mino melengos menatap Lisa malas “itu berarti ini belum menjadi hak mu nona” ucap Mino melewati Lisa.
‘Flat shoes itu memang belum menjadi milikku tapi akan’ pekik Lisa dalam hati.
Lisa meniup poninya dengan kasar, menahan emosinya yang sekarang siap untuk meledak. Kembali Lisa berjalan menghampiri Mino. Menahan langkah lelaki itu dengan berdiri di depannya.
“maaf tuan tapi aku yang akan membeli flat shoes itu, jadi ku mohon padamu untuk mengembalikannya padaku” ucap Lisa penuh penekanan.
Ia tatap tajam mata Mino yang sekarang juga mulai menatap tajam kearahnya. Semula Lisa merasa takut melihat tatapan itu. namun, bukan Lisa namanya jika ia menyerah begitu saja. Jadi ia pertajam tatapan mata kearah Mino.
Mino kembali memutar bola matanya. Lalu menatap kearah Lisa dengan muka kesal. Ia hanya ingin menjalani hari tanpa beban hari ini. Cukup hari ini tidak lebih.
Hari ini memang suasana hati tidak dalam keadaan yang baik. Tidak hanya hari ini memang setiap harinya, hari Mino tidak ada yang bagus. Ada ada saja hal menyebalkan yang harus ia hadapi setiap hari.
Tapi dia fikir hari ini berbeda, karna hari ini tepat hari dimana ia dan pacar yang sangat ia cintai itu mejalin hubungan selama setahun. Ia sudah mempersiapkan tempat yang sangat romantis untuknya dan pacarnya merayakan anniv pertama mereka. namun, dengan seenaknya saja pacarnya itu menelpon bahwa ada hal yang harus ia lakukan. Membuat akhirnya mereka membatalkan janji itu.
Mengingat hal itu mebuat Mino kembali kesal. Ingin rasanya ia memaki-maki saat ini. Ditatapnya Lisa yang masih menatap tajam. Sebenarnya ia dapat memaki saat ini karna ada sasaran empuk yang bisa membuatnya melampiaskan amarah yang ia tahan sejak tadi.
Namun, mengingat Lisa yang masih remaja SMA membuat ia mengurungkan niatnya itu. Ia tidak mau berurusan dengan murid SMA. Karna ia sangat tau betul bagaimana tabiat anak-anak yang masih berada di umur seitu.
Mereka masih saling melempar tatapan tajam yang membuat para pengunjung dan pelayan toko di buat bingung oleh tingkah mereka. Mereka memang tidak saling bertengkar tapi jika melihat mereka saling bertatap seperti itu justru membuat orang-orang akan bingung harus melakukan apa.
Tidak ada yang ingin mengalah, Lisa atau Mino masih tetap pada posisi mereka masing masing. Juga dengan tatapan mereka yang semakin tajam dan menusuk.
Merasa ia sudah banyak menghabiskan waktu karna remaja SMA ini membuat Mino akhirnya mengalah. Membiarkan flat shoes yang niat awal akan ia belikan untuk sang pacar di ambil oleh Lisa. Ia lemparkan flat shoes itu asal kearah Lisa. Lalu berlalu pergi tanpa peduli dengan Lisa yang sekarang telinga dan matanya sudah berasap menahan emosi.
“kau ambil saja” ucap Mino dan berlalu pergi melewati Lisa pergi keluar dari toko.
Lisa menatap punggung Mino dengan emosi yang sudah diatas ubun-ubun. Bagaimana bisa ada manusia sejenis itu hidup di bumi ini. Ia tidak terima dengan apa yang dilakukan Mino padanya. Memberi flat shoesnya dengan cara di lemparkan seperti itu? Sungguh sangat tidak sopan.
Selangkah ia langkahkan kakinya untuk mengejar Mino. Namun ia urungkan karna niat awal ia masuk ketoko ini bukan untuk cari ribut. Ia tidak ingin kehidupannya yang tentram dan damai harus berujung bermasalah dengan lelaki itu.
Yak seperti itulah Lisa, dia bukan lari dari masalah. ia hanya tidak ingin menambah masalah.
Namun, Lisa berjanji jika suatu saat dia bertemu lagi dengan lelaki itu ia akan melempar flat shoes itu kearah kepala lelaki itu. Lihat saja dia sudah berjanji akan membalas apa yang sudah ia dapatkan. Tapi akan lebih baik kalau ia tidak bertemu dengan lelaki itu lagi.
*********
Lisa berjalan malas menyusuri jalan menuju supermarket. Sedikit mengomel-ngomel karna ibunya yang dengan tiba-tiba menyuruhnya ke supermarket. Seharusnya ibunya sadar kalau hari ini sudah malam, bukankah tidak bagus bila ada seorang gadis berjalan sendirian di luar rumah.
Juga Seungyoon kakak laki-lakinya yang dengan cepat menolak untuk menemani ke supermarket. Awas saja jika terjadi sesuatu padanya nanti akan ia tuntut mereka karna sudah membiarkan gadis cantik sepertinya berjalan sendirian diluar rumah. Awas saja.
Suasana malam pada hari itu memang sangat dingin. Padahal sekarang adalah musim panas ia tidak menyangka bahwa ternyata malam pada musim panas tetaplah terasa dingin. membuatnya sedikit mempeeratkan jaket yang sedang ia kenakan.
Sesampainya di tempat supermarket, ia masuk ke dalam supermarket. Memilih barang sesuai yang di suruh oleh ibunya tadi. Tidak susah mencarinya, ia bisa dengan mudah mendapatkannya.
Setelah membayar ke meja kasir, Lisa membawa barang belanjaan keluar dari supermarket. Berjalan untuk kembali kerumahnya. Rumah yang hangat serta nyaman untuk di tinggali.
Braakkk……
Suara gaduh dari sebuah gang gelap tiba-tiba saja mengagetkannya. Membuat langkah lisa sedikit terhenti. Ia pertajamkan fungsi telinga untuk mendengar apa yang terjadi.
Ia tengah berdiri tepat di depan gang gelap itu. Ia yakin bahwa suara itu berasal dari dalam gang yang sedang ia lihat sekarang. Ia pertajam pandangannya ke arah gang, sedikit menyipitkan matanya. Namun tetap saja tidak terlihat apa-apa.
Samar-sama ia mendengar suara orang-orang yang sedang berbicara disana. Pembicaraan mereka tidak terdengar jelas ditelinganya. Cuma dengan cepat ia menyadarkan diri bahwa itu bukanlah urusannya.
Lisa lanjutkan lagi langkah kaki yang sempat terhenti. Melupakan kejadian didalam gang yang membuatnya sedikit penasaran. Sebenarnya ia masih ingin mengetahui apa yang sudah terjadi, tapi ia tidak boleh menghadapi resiko yang belum ia ketahui apa yang akan terjadi nanti.
Bisa saja itu adalah segerombolan preman yang sedang menjalani aksi mereka. atau mungkin hanya segerombolan pemabuk yang sedang melakukan ulahnya. Atau mungkin karna karna yang lain yang bisa saja menyeret ia masuk kedalam pemasalahan yang serius.
Ahh ia tidak suka permasalahan yang serius. Hidupnya terlalu damai untuk menghadapi hal serius seperti itu. Hidup damai seperti saat ini ia rasakan sudah membuatnya senang.
Tak berapa lama Lisa kembali mendengar suara orang yang tengah sibuk dengan pembicaraannya. Suara itu berada di belakang yang ia yakini berasal dari gang gelap yang ia liat tadi. Karna penasaran Lisa kembali berbalik menghadap gang gelap tadi.
Segerombolan lelaki berotot besar yang ia yakini adalah preman berjalan keluar dari dalam gang itu. Otot-ototnya yang besar membuat Lisa meneguk paksa ludahnya. Lisa bergidik ngeri melihatnya.
Benar apa yang ia pikirkan, bahwa itu ulah preman-preman yang sedang melakukan aksinya. Untung ia tidak dengan gegabah masuk kedalam gang itu. Kalau tidak, mungkin sekarang badannya sudah ikut babak belur dihajar preman itu karna sudah mencampuri urusan mereka.
Pandangan Lisa menangkap seseorang dengan muka yang lebam tengah berjalan tertatih-tatih keluar dari gang tersebut. Mulutnya sedikit ternganga melihat keadaan lelaki itu yang sangat memprihatinkan. Pastilah itu ulah dari segerombolan preman tadi.
Keadaan laki-laki itu sangat mengenaskan, matanya membiru, pipinya juga biru, serta bibirnya yang sobek membuat Lisa merasa sangat prihatin melihatnya. Juga baju yang tengah lelaki itu kenakan sudah tidak beraturan lagi bentuknya. Sungguh pemandangan yang sangat mengenaskan.
Apa yang harus ia lakukan? Lisa mulai berfikir jalan apa yang harus ia lakukan. Apa ia harus menolong lelaki itu atau membiarkannya lalu berjalan pulang menuju rumah. Otaknya memilih untuk membiarkan saja lelaki itu dan melanjutkan langkah kaki menuju rumah, namun sebagian hatinya merasakan kasihan dan ingin membantu lelaki itu.
Lisa memilih berbalik kearah jalan menuju rumahnya. Ia lebih memilih keputusan dari otaknya. Ia tidak boleh ikut terseret dalam permasalahan lelaki yang sama sekali tidak ia kenal itu.
Lelaki itu baru saja keluar dari gang tempat para preman itu keluar. Pastilah lelaki itu korban dari preman-preman itu tadi. Benar ia tidak boleh mengambil resiko yang bisa dengan kapan pun bisa menyeretnya masuk kedalam masalah mereka.
Lagipula ia bukanlah tipikal orang yang suka mencampuri urusan orang lain. masalahnya saja suka tidak ia urus apalagi mengurusi masalah orang lain. yah itu bukan urusannya.
“arrgghh”
Langkah kaki yang lisa lanjutkan untuk menuju pulang kerumahnya kembali terhenti. Saat mendengar sebuah teriakan yang berasal dari belakangnya. Ia yakin pasti itu berasal dari lelaki tadi.
Digigit bibir bawahnya sedikit kuat. Bingung dengan pikirannya. Sekarang ia benar benar merasa kasihan dengan lelaki itu. Ia balikkan badan mengarah tempat lelaki itu tadi. Matanya terbelalak melihat lelaki itu yang sudah tekapar lemah di tanah.
“ahhjussi gwenchana?” Tanya Lisa dan menghampiri lelaki tersebut dengan cepat. “ahh ottokeo” bingung Lisa.
**********
Minggu, 25 Juni 2017
FLAT SHOES (Prolog)
Flat shoes
Lisa
Aku tidak tau ada apa dengan ku. Kehidupan ku banyak berubah saat bertemu dengan lelaki yang tak sengaja ku selamatkan, hah? Selamatkan? Aku sungguh tidak tau mengapa aku mau menyelamatkannya.
Dan lagi kehidupan ku yang tentram dan damai menjadi hancur karna lelaki itu. dia selalu seenaknya menganggu ku, membuat kepala ku ingin pecah karna menahan emosi. Mungkin jika polisi tidak ada di bumi ini aku sudah akan membunuhnya.
Mino
Siapa sangka ditinggal bertunangan oleh seorang wanita yang sangat ku cintai itu, membuat ku bisa bertemu dengan gadis yang sangat menarik perhatian ku. Dia jauh dari type ideal ku tapi ntah mengapa aku ingin selalu menemuinya.
Ahh dia bahkan senang berkata kotor, sifat wanita yang sangat tidak ku sukai. Masuk kedalam kehidupan gadis itu membuat kehidupan ku yang seperti biasa banyak berubah. Bukan hanya dia yang aneh, tapi orang sekitarnya juga aneh, membuatku semakin betah berada bersamanya.
Cast:
Lalisa Manobal sebagai Lalisa kang aka Lisa
Song Min Ho sebagai Song Min Ho aka Mino
Kang Seung Yoon sebagai Kang Seung Yoon aka Seungyoon
Dong Young Bae sebagai Dong Young Bae aka Taeyang
Kim Ji Soo sebagai Kim Ji Soo aka Jisoo
Kim Dong Hyuk sebagai Kim Dong Hyuk aka Donghyuk
Kim Jennie sebagai Kim Jennie aka jennie
Lee Seung Hoon sebagai Lee Seung Hoon aka Seunghoon
Lisa
Aku tidak tau ada apa dengan ku. Kehidupan ku banyak berubah saat bertemu dengan lelaki yang tak sengaja ku selamatkan, hah? Selamatkan? Aku sungguh tidak tau mengapa aku mau menyelamatkannya.
Dan lagi kehidupan ku yang tentram dan damai menjadi hancur karna lelaki itu. dia selalu seenaknya menganggu ku, membuat kepala ku ingin pecah karna menahan emosi. Mungkin jika polisi tidak ada di bumi ini aku sudah akan membunuhnya.
Mino
Siapa sangka ditinggal bertunangan oleh seorang wanita yang sangat ku cintai itu, membuat ku bisa bertemu dengan gadis yang sangat menarik perhatian ku. Dia jauh dari type ideal ku tapi ntah mengapa aku ingin selalu menemuinya.
Ahh dia bahkan senang berkata kotor, sifat wanita yang sangat tidak ku sukai. Masuk kedalam kehidupan gadis itu membuat kehidupan ku yang seperti biasa banyak berubah. Bukan hanya dia yang aneh, tapi orang sekitarnya juga aneh, membuatku semakin betah berada bersamanya.
Cast:
Lalisa Manobal sebagai Lalisa kang aka Lisa
Song Min Ho sebagai Song Min Ho aka Mino
Kang Seung Yoon sebagai Kang Seung Yoon aka Seungyoon
Dong Young Bae sebagai Dong Young Bae aka Taeyang
Kim Ji Soo sebagai Kim Ji Soo aka Jisoo
Kim Dong Hyuk sebagai Kim Dong Hyuk aka Donghyuk
Kim Jennie sebagai Kim Jennie aka jennie
Lee Seung Hoon sebagai Lee Seung Hoon aka Seunghoon
Rabu, 04 Maret 2015
Cindai Icil
Cindai Idola Cilik
ini loh
artis cilik bersuara emas bak permata :v yang dah di sia-siain sama pihak
management nya hadeh. Cewe jebolan idola cilik nih nama nya Gloria Chindai
Lagio, bagi yang ICL kaga tau, parah itu mah asli.
Awal nya sih
gak terlalu suka amat gue sama dia. Pas masih di idola cilik juga gue biasa aja
sama suaranya, walau jujur sempat bingung kok badan gue merinding tiap denger
suara nya. Ehh ternyata emang suara nih anak keren binggow wks alay dah. Mending
liat video nya aja deh, nih aksi dia di icil yang paling gue seneng.
Selasa, 03 Maret 2015
Story Of My Life Part 4
Story Of My Life
Hari ke hari
pun berlalu, udah sekitar satu minggu gue tinggal di asrama ini, dan udah
seminggu gue kagak adu mulut sama omah, duhh kok gue jadi kangen yak. Aaaa
ternyata sehari gak adu mulut sama omah gak asik ya. Gue emang udah satu minggu
sekolah disini tapi ampe sekarang gue kaga punya temen, huaaa sedih amat sih
hidup gue. Ato jangan-jangan gue terlahir buat gak punya temen oh tidakkk.
Gue berada
di kelas X.2 gak tau gimana ceritanya gue bisa masuk kelas itu hanya pihak
sekolah yang tahu. Anak kelas gue asik-asik, lucu-lucu, ramah-ramah tapi tetep
aja gue masih gak pede buat ajak kenalan. Kalo gak ada yang ngajak kenalan
duluan yah gue gak bakal kenalan, jyaaaa kalo gini caranya gue beneran gak
bakal puna temen.
Ohhh ya
walau gitu gue seneng tau karna apa? Karna ahhaaaa rahasia loh yaaa wkwkwk udah
mending simak deh cerita gue.
***
“dek bangun
dek”
Ya ampun
suara sapa sih nih kaga tau gue masih ngantuk apa. Kaga tau gue lagi sibuk apa
manggil-manggil mulu.
“dek bangun”
Ya ampun nih
suara bandel amat sih, dah di bilangin gue lagi sibuk masih juga
manggil-manggil. Tapi kok aneh ya, biasanya suara-suara perusak suasana dinner
gue kali ini suaranya kok gak cempreng ya? Agak lembutan gitu.
“hah omah”
gue pun terbangun dengan sekejap saat sadar kalo ada yang ganjal.
“huuu
akhirnya bangun juga kamu dek”
“ehh kak
Acha?”
“iya,
kenapa? Masih kebawa suasana rumah ya?”
“hehe iya
sih kak?” jawab gue dengen menunjukkan rentetan gigi kuning gue ke arahnya. Ehh
gigi gue kuning gara-gara belum gosok gigi ya jadi jangan mikir yang aneh-aneh.
“hahah kakak
dulu awal nya gitu, udah sana siap-siap kakak pergi duluan ya”
“iya kak”
Pantes suara
nya lembutan ternyata suara kak Acha. Kirain Omah udah tobat ato berubah
pikiran buat jadi penyanyi Rock. Tapi ahhh gue kangen omah, biasanya kan dia
yang bangunin gue. Ternyata pisah dengan suara cempreng nya omah bikin kangen
juga ya huuu.
Duh bego
daripada gue kayak gini, mending sekarang gue siap-siap buat pergi sekolah,
hari pertama coy harus memberi kesan yang baik. Dengan semangat sedikit malas
gue pun berjalan menuju wc untuk... kalo belum berubah yaa wc buat mandi, gak
tau sih kalo kegunaan wc dah berubah.
Selesai
mandi, gue kenakan baju seragam khas BN. Baju putih dengan lambang BN di
kerahnya serta Rok berwarna biru laut kesukaan gue dan dasi dengan warna
senada, dan almamater biru dengan warna yang sama. Almamater kebanggaan BN nih.
Aaaa masih sedikit gak percaya nih gue bisa make almamater BN hihi.
“cieeee anak
BN ahahah” ejek gue ke diri sendiri waktu liat gue di depan cermin.
Ternyata
kalo di liat-liat nih baju memang cocok buat gue waks jangan-jangan gue memang
terlahir buat sekolah disini wkwkwk ngayal dah. Tapi asli dah masih grogi pake
bingits gue gimana kalo ternyata gak ada yang mau kenalan sama gue trus gimana
kalo ternyata gue gak bakal dapet temen aaaa hidup tanpa teman bagai taman tak
berbunga.
Gak gak gak,
gue harus yakin kalo gue pasti bakal punya temen disini karna gue memang
terlahir buat sekolah disini wkwkwk. Dari pada gue mikir yang aneh-aneh kayak
nya bakal keren kalo gue selfie anjayyy sekolah pertama di BN.
Gue keluarin
deh Iphone kesayangan gue, lalu memilih aplikasi kesayangan gue dan membuka.
Setelah terbuka gue angkat Iphone gue gak terlalu tinggi dan mulai berpose ria.
Ckrikkkk.....
***
Widihhh kalo
gini mah betah gue buat upacara, lu bayangin aja zaman SMP kalo upacara ya
panas-panasan nah ini adem gini betah dah gue upacara paling yang pegel kaki
doang. Upacara di BN indor jadi terselamatkan dari sinar matahari. Gak
payah-payah deh kita buat kepanasan, dan juga gak usah takut kalo kulit nya
berubah warna. Aman sinar matahari kagak ada wkwkwk.
Selesai
upacara, pengumuman pembagian kelas pun di mulai. Gue pasang dah tuh telinga
tajem-tajem. Dan ternyata ehh ternyata gue berada di kelas X.2 kaget gue.
Awalnya gue kira bakal dapet kelas paling ujung ehh ternyata kagak wkwkwk.
Sesampai di
kelas X.2 gue hanya menatap anak kelas bingung. Bukan bingung karna apa, gue
cuma Bingung harus ngapain. Asing banget gue sama orang-orang disini, Rata-rata
udah pada punya temen karna ya memang temen sekolah nya dulu mungkin. Yah enak
dah yang punya temen satu sekolah nya dulu nah gue anjay dah.
Untung
disini duduk nya gak perbangku, kalo perbangku beh yang ada gue gak punya temen
sebangku. Gue memilih bangku dekat jendela karna menurut gue itu posisi paling
pewe. Tempatnya strategis gitu, di luar jendela kelihatan jelas pemandangan
yang pas banget buat mata. Yang pasti gak bikin mata sakit. Pas banget buat
istirahat mata kalo udah mulai bosan sama pelajaran.
Udah puas
lihat ke luar jendela gue pun beralih ke dalam kelas, melihat seisi kelas dari
ujung ke ujung, kelas nya nyaman banget Cuma ada satu yang bikin gak nyaman,
yapsss sisi tivi yang ada di ujung kelas, huuuu berasa peserta dunia lain gue.
Lama-lama gue lambaikan tangan juga nih karna gak kuat.
Gue lihat ke
arah pintu dah mulai banyak anak yang masuk, termasuk cowo yang menurut gue
poni nya agak urakan gitu, trus cewe manis yang lagi asik clingak clinguk, trus
cewe cantik yang menurut gue mirip model.
“woyyy nop”
sapa seorang cowo yang gue bilang berponi urakan tadi.
“oyyy deh,
sini duduk sini aje” balas sapa cewe manis yang menurut gue agak tomboy.
“Fatah
kemana?”
“tau masih
molor kali”
“emang elu
wkwkwk”
Gue Cuma
bisa merhatiin mereka dari bangku gue. Kalo dilihat tuh dua anak temen akrab,
temen satu sekolah mungkin. Huuuu, gue Cuma bisa menghembuskan nafas berat
melihat iri ke arah mereka. Aaaaa kan bener gue kaga punya temen. Kalo gue ikut
nimbrung gimana ya? Ehhh jangan deh ntar yang ada gue di bilang SKSD lagi dihh
ogah banget. Tapi kalo gak gitu gue kagak bakal punya temen, huaaaa omahhhh.
Gue
sandarkan punggung gue ke bangku memilih buat menatap keluar jendela. Mending
juga liat pemandangan di luar dari pada liat pemandangan di dalem bikin sirik
huaaaa hidup gue kok gini-gini amat sih.
“heyyy gak
gabung sama yang lain?”
Gue alihkan
pandangan gue ke arah seorang cewe berambut lurus yang sekarang tengah duduk di
sebelah bangku gue yang sekarang sibuk memobrak-abrik tas nya. Eee nih anak
tadi ngomong sama gue bukan? Dih udah ahh kaga usah geer gue. Gue alihkan
kembali pandangan gue keluar jendela.
“ya ampun
hape gue kemana coba?” bingung nya.
Gue pun
berbalik dan kembali menatapnya bingung. Sekarang kira-kira nih cewe ngomong
sama siapa? Gue gue menatap ke arah sekitar gue kali aja ada orang yang dia
ajak ngomong selain gue.
“duh
kira-kira hape gue dimana ya?” tanya nya lagi sambil menatap bingung ke arah
gue.
Gue Cuma
angkat sebelah alis ke arahnya. Bingung harus jawab apa? Karna memang gue gak tau
mesti jawab apa?
“eeee coba
lu periksa kantong lo deh” suruh gue memberi saran.
“kantong?”
ia pun memeriksa kantongnya.
“gimana?”
tanya gue.
“heheh iya
ada nih” jawab nya sambil memperlihatkan hape nya ke arah gue.
Heeee, pea
juga nih cewe -_- barang ndiri ampe lupa narok nya. Di kantong sediri lagi,
mending juga kalo di kantong orang kan kaga berasa, nah ini -_- tapi hihi aneh
juga nih orang.
“ehh nama lu
siapa?” tanya nya sambil mengulurkan tangan.
Gue hanya
menatap dengan mata berbinar-binar ke arahnya. Untuk pertama kalinya ada orang
yang ajak gue kenalan. Hyaaaaa ini bukan mimpi kan atau ini hanya khayalan
semata? Bukan kan bukan?
“helloooo
kok bengong sih?” tanya nya.
“ehhh heheh
iya gak papa kok, ehh nama gue Cindai” ucap gue sambil membalas uluran
tangannya.
“salam kenal
Cindai, nama gue Salma”
“salam kenal
juga Salma”
Untuk hari
pertama gak terlalu buruk, gue bisa kenalan sama orang untuk pertama kalinya.
Gue memang paling susah sama yang nama nya kenalan kalo bukan modal nekat dan
gak tau malu mungkin gue gak bakal punya temen. Kalo pas SMP gue sering di
kenalkan sama temen akrab gue, biasa nya dia yang bantuin gue buat kenalan, nah
sekarag boro-boro orang dah pisah sekolah.
Kak Acha
adalah orang pertama yang kenalan dengan gue. Dia senior yang baik dan ramah,
gak kayak senior-senior songong gue pas SMP dia orang nya ramah banget keliatan
dari cara dia senyum. Dan kenalan kedua gue ya tadi sama Salma ternyata dia
dari SMP Binus, udah gue duga kalo ternyata dia murid SMP terkenal. Lebih wah
lagi pas gue tau ternyata dia vokalis band widih mantap dah.
Huuuu, gue
harap untuk besok-besok nya gue bisa kenalan lebih banyak lagi. Cari temen
lebih banyak, bukan hanya sama yang seangkatan tapi sama senior juga, I hope kalo kata Omah wkwkwk.
***
Story of My Life Part 3
Story Of My Life
“apa besok?” tanya gue dengan heboh nya ke arah omah.
“iya ndai besok”
“kok besok sih omah? Cepat banget?”
“ya mana omah tau ndai, omah Cuma di kasih tau sama pihak
sekolah nya”
“emang gak pake MOS dulu apa?”
“dah di bilangin omah gak tau”
Plakkkk.. tangan omah kembali mendarat di atas kepala gue.
“udah mending kamu siapin semua perlengkapan kamu besok”
“yaudah deh”
Gue berjalan menuju kamar untuk mempersiapkan diri. Pada
bingung kenapa? Ntar gue jelasin.
***
Keesokan pagi gue dah siap buat pindah. Nah pada bingung kan
pindah kemana. Gue bakal pindah ke asrama. Asrama BN pastinya. Sebenernya gue
masih gak rela banget buat tinggal di asrama tapi ya mau gimana lagi SMA BN
mewajibkan murid-muridnya untuk tinggal di asrama. d
Sesampai di asrama BN gue turun dari mobil, gue liat banyak
banget murid yang di anter sama orang tua nya. Rata-rata pada di anter pake
mobil mewah anjayyyy awal pergaulan baru nih main sama anak gedongan. Kalo di
lihat-lihat rata-rata dari alumni SMP Binus sekolah termewah di daerah sini ehh
ampir sepulau jawa deh kali :v.
Mata gue terbelalak melihat sebuah pemandangan yang jarang
banget terjadi. Itu Chelsea kan? Model terkenal yang muka nya sering banget
terpampang di mall mall *plakk. Bukan hanya itu katanya suara nya bagus, gue
gak tau jelas tau nya Cuma sekilas. Itu juga gara-gara si Arya yang heboh
banget ceritain dia. Dan gue yakin dia bakal sirik kalo tau gue satu sekolah
sama Chelsea.
Tuh kan apa gue bilang, disini isinya orang-orang terkenal.
Mana cocok sih gue sekolah di tempat beginian. Kalo gini mah tambah takut aja
gue buat kenalan, bukan takut karna apa, gue Cuma minder.
“barang kamu gak ada yang ketinggalan kan ndai” tanya omah
sambil bantuin gue nurunin barang-barang.
“yang tinggal sih banyak omah, kayak lemari, meja belajar
sama kasur ndai tinggalin omah, sengaja di tinggalin gitu”
Plakkk...
“omah” protes gue sambil ngelus kepala gue yang selalu kena
tamparan darinya.
“udah sana”
“iya iya ihh”
Gue tarik koper gue ke arah asrama. Ehh pea barang-barang
gue siapa yang bawa. Gue berbalik kearah omah mau minta pertolongan buat bantu
ngangkat barang-barang ini. Dan saat gue berbalik dengan asem nan masem nya
omah ninggalin gue lagi. Huaaaa dasar nenek-nenek alay nyebelin, huuu.
“mamang bantuin ya
neng” tawar seorang pria parubaya yang gue yakinin kalo dia pegawai disini.
“ohh boleh mang, makasih ya” kata gue sambil nyerahin
separoh barang gue dengan senang hati.
Aaaaaa, Tuhan mah emang sayang sama gue, dia gak mau biarin
gue kecapekan bawa nih barang wkwkkw. Emang omah yang rese nya kronis abis.
Omah emang tega ninggalin cucu nya yang manis nan kece badai sendiri disini,
bantuin bawa nih barang bisa kali kan.
“eneng dari sekolah mana?” tanya mamang yang gak gue tau
siapa namanya.
“dari Al-Fatah mang”
“ohh Al-Fatah, jarang-jarang yak ada anak Al-Fatah disini”
“iya mang, cindai aja gak percaya bisa masuk sini, lagi
beruntung mungkin hahah”
“hahha ada-ada aja nih si eneng”
“ehh mang tiap kamar isi nya berapa orang sih?”
“biasanya sih 5 orang neng”
“hah? Emang gak sempit?”
“lebar kamar nya neng, jadi gak usah takut sempit”
Gue Cuma mengOkan mulut gue. Mamang pun berhenti di sebuah
ruangan yang gue yakinin yang bakal jadi kamar gue nantinya.
“nah neng ini kamar nya”
Ceklekk.....
Baru mau gue ngucap terima kasih ehh gak jadi. Karna dengan
sendiri nya pintu kamar terbuka. Nah lo siapa yang buka? Jangan-jangan, haduh
heran deh dari kemaren-kemaren kok gue nemu yang mistis-mistis mulu sih.
“ehh mamang, kenapa?” tanya sebuah suara dari dalam kamar.
Ooo ada orang toh kirain wks. Maaf kan aku wahay kamu yang di balik pintu karna
aku telah berfikir yang tidak tidak.
“baru mau di ketok neng acha, ehh belum pindah kamar neng?”
“belom mang, nama acha ketinggalan hehe”
Gue penasaran banget sama cewe yang ada dalam kamar yang bisa
gue tebak dia yang bakal jadi
“lah kok bisa neng?”
“gak tau mang, mungkin gara-gara pas daftarulang Acha telat haha”
“kebiasaan eneng itu mah hahah”
kakak kelas gue nanti nih pastinya, keliatan dari mamang
yang udah akrab sama dia. Dan gue berharap banget kalo dia bukan kakak kelas
yang hobi jutekin adek kelas.
Tapi kok gue takut yak, gue grogi banget. Tapi grogi
kira-kira respon dia liat gue apa yak? Kesal kah? Benci kah? Aisss, dah di
bilang kan cewe sekelas gue mana cocok tinggal di lingkungan beginian helah.
“ehh anak baru ya?” tanya nya yang sekarang udah menunjukan
jati diri nya (?) ok ini alay.
“engg hehe iya” jawab gue kaku.
“neng Acha ini dulu di kamar
ini neng dia yang bakal jadi kakak kelas eneng nanti” jelas mamang, yang jawab
angguk-angguk aja kan gak lucu kalo gue geleng-geleng.
“kamu di kamar ini ya?” tanya si acha kalo gak salah ya.
“i..iya kak hehe”
“ihh santai aja kali, ohh iya nama kakak Raissa Arif, biasa
di panggil acha”
Nah lo Raissa Arif? Dari mana Acha nya. Emang ya nama
panggilan tuh banyak macam nya dari yang nyambung ke nama lengkap ampe yang
melenceng jauh aja ada, yaudah kalo gitu nama gue Gloria Cindai Lagio biasa di
panggil Stefany. Plakkk >.<
“kenapa bengong dek?” tanya kak acha yang langsung buat gue
sadar.
“ehhh enggak kak heheh”
“bingung ya sama nama panggilan kakak?”
“engg dikit kak ehh”
Mposss lo keceplosan kan, mati di gue bisa di maki-maki gue
ntar. Ini nih kebiasaan gue, kalo ngomong sering lupa di ayak, kan susah jadi
nya :3 kalo nih kakak ngamuk gimana? Terus dia ngajak temen-temen geng nya mati
lah gue.
“hahaha, temen-temen kakak juga banyak yang bingung”
Haaaa? Di kagak marah coy, gue hela nafas lega. Padahal kan
gue dah siap di caci maki tapi ternyata, ahaaa sekarang gue bisa nyimpulin kak
acha orang yang baik.
“yok dek masuk” ajak nya ramah.
“iya ka”
Pas masuk kamar gue masih belum bisa buat kagak cengo. Lu
bayangin aja kamar nya lebarrr. Ini mah apartemen yakin dah gue, ada 5 kamar
disini tanda kalo memang bakal ada 5 orang penghuni disini. Nah di tempat gue bediri
nih gue yakin kalo ini kayak ruang keluarga gitu.
Gue jalan ke arah sofa dan duduk pegel coy lama-lama bediri
mulu. Dan lagi gue cengo, ini sofa apa lasur sin, empuk amattt.
“kamu dari SMP mana dek?” tanya kak acha.
Nah kalo dah gini gue malu buat jawab apa. Aduh bukan nya
apa, kan sekolah gue terkenal tuh sekolah buangan. Maksud nya sekolah buangan
tuh yah sekolah pilihan terakhir kalo dah gak bisa keterima di sekolah favorit.
Dan juga udah gue jelasin kan kalo jarang ada sepanjang sejarah murid Al-Fatah
masuk sini.
“dek kok bengong?”
“haaa? Ehhh hehe gak papa kak” jawab gue bingung.
“hahah lucu kamu, ehh belum di jawab tadi kamu dari SMP
mana?”
“dari SMP Al-Fatah kak”
“ohhh Al-Fatah, jarang banget tuh anak Al-Fatah disini”
Bukan lagi jarang emang kagak ada kali rutuk gue dalem hati.
“ehh tap jangan salah loh dek ada kok anak Al-Fatah disini,
seangkatan sama kakak”
Gue Cuma melotot ke arah kak Acha antara gak yakin sama gak
percaya. Masa sih ada anak Al-Fatah
disini trus seangkatan sama kak Acha berarti
kakak kelas gue dong.
“kenapa dek?” tanya kak Acha yang membangunkan gue dari
lamunan.
“besok deh kakak kasih tau siapa kakak kelas kau itu,
mending sekarang kamu beres-beres trus mempersiapkan diri buat besok”
“siap kak” jawab gue.
***
Langganan:
Postingan (Atom)

